Pendahuluan
Tidur merupakan kebutuhan dasar yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Saat tidur, tubuh melakukan proses pemulihan, memperbaiki jaringan, serta mendukung perkembangan otak dan sistem saraf. Namun, tidak semua anak bisa tidur dengan nyaman. Salah satu penyebab yang sering tidak disadari orang tua adalah skoliosis, yaitu kelainan pada tulang belakang yang membuatnya melengkung ke samping secara tidak normal.
Banyak orang mengira skoliosis hanya berpengaruh pada postur tubuh, padahal kondisi ini juga bisa berdampak langsung pada kualitas tidur anak. Anak yang mengalami skoliosis, terutama dengan derajat kelengkungan di atas 25°, sering kali merasa tidak nyaman saat berbaring dan sulit menemukan posisi tidur yang pas. Akibatnya, mereka cenderung gelisah di malam hari, sering terbangun, atau bahkan mengeluh sakit punggung saat bangun tidur.
Artikel ini akan membahas secara lengkap hubungan antara skoliosis dan gangguan tidur pada anak, penyebab rasa tidak nyaman yang muncul, serta langkah-langkah praktis untuk membantu anak tidur lebih nyenyak meski memiliki skoliosis.

Apa Itu Skoliosis?
Skoliosis adalah kelainan bentuk tulang belakang yang menyebabkan tulang belakang melengkung ke arah samping, menyerupai huruf “S” atau “C”. Kondisi ini dapat muncul sejak anak-anak, remaja, atau bahkan dewasa, tergantung pada penyebabnya.
Pada anak, skoliosis paling sering terjadi saat masa pertumbuhan pesat menjelang pubertas (sekitar usia 10–15 tahun). Pada fase ini, pertumbuhan tulang yang cepat kadang tidak seimbang dengan kekuatan otot dan jaringan penopang di sekitarnya, sehingga tulang belakang dapat melengkung.
Derajat kelengkungan skoliosis biasanya diukur menggunakan sudut Cobb (Cobb angle). Semakin besar sudutnya, semakin berat pula kelainan tersebut.
-
Skoliosis ringan: < 20 derajat
-
Skoliosis sedang: 20–40 derajat
-
Skoliosis berat: > 40 derajat
Anak dengan skoliosis ringan umumnya tidak merasakan keluhan yang berarti. Namun, pada kasus sedang hingga berat (lebih dari 25 derajat), gejala mulai terasa — salah satunya berupa gangguan tidur akibat rasa tidak nyaman pada punggung atau dada.
Mengapa Skoliosis Bisa Mempengaruhi Tidur Anak?
Tidur yang nyenyak membutuhkan posisi tubuh yang seimbang dan rileks. Pada anak dengan skoliosis, tulang belakang yang melengkung membuat distribusi berat tubuh tidak merata. Hal ini menyebabkan tekanan tidak seimbang pada otot, saraf, dan sendi, terutama di bagian punggung dan pinggang.
Beberapa alasan mengapa skoliosis dapat mengganggu tidur anak antara lain:
-
Sulit Menemukan Posisi Tidur yang Nyaman
Kelengkungan tulang belakang membuat anak sulit menemukan posisi tidur yang terasa pas. Posisi telentang bisa membuat punggung terasa tertarik, sementara posisi miring dapat memberikan tekanan berlebih pada sisi tubuh tertentu. Akibatnya, anak sering berganti posisi di malam hari, dan tidur menjadi tidak nyenyak. -
Nyeri Otot dan Kekakuan
Otot di sekitar tulang belakang bekerja lebih keras untuk menjaga keseimbangan tubuh. Kondisi ini dapat menimbulkan ketegangan dan nyeri otot, terutama setelah aktivitas seharian. Ketika berbaring, rasa pegal dan kaku tersebut bisa semakin terasa. -
Gangguan Pernapasan pada Skoliosis Berat
Pada skoliosis dengan kelengkungan signifikan, terutama yang melibatkan tulang dada (thorakal), kapasitas paru-paru bisa menurun karena ruang dada menjadi sempit. Anak mungkin merasa sesak atau tidak leluasa bernapas saat tidur, terutama dalam posisi tertentu. -
Rasa Cemas atau Tidak Nyaman Secara Psikologis
Anak dengan skoliosis kadang merasa berbeda atau minder dengan bentuk tubuhnya. Perasaan ini bisa menimbulkan stres ringan yang ikut mengganggu kenyamanan tidur.
Skoliosis dan Kualitas Tidur Anak: Kenali Hubungannya dan Cara Mengatasinya
Orang tua perlu memperhatikan tanda-tanda berikut yang bisa mengindikasikan anak mengalami gangguan tidur karena skoliosis:
-
Anak sering gelisah di malam hari dan sering berganti posisi tidur.
-
Terbangun di tengah malam tanpa alasan yang jelas.
-
Mengeluh nyeri punggung, bahu, atau pinggang setelah bangun tidur.
-
Mengeluh kelelahan di pagi hari meski sudah tidur cukup lama.
-
Terlihat kurang fokus, mudah mengantuk di sekolah, atau menjadi lebih mudah marah.
Jika tanda-tanda tersebut muncul, ada kemungkinan skoliosis anak sudah cukup signifikan dan memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Dampak Jangka Panjang Jika Tidak Ditangani
Gangguan tidur bukanlah hal sepele, terutama pada anak yang sedang tumbuh. Tidur yang tidak berkualitas dapat mengganggu banyak aspek kehidupan anak, antara lain:
-
Pertumbuhan terhambat, karena hormon pertumbuhan (growth hormone) dilepaskan secara optimal saat tidur nyenyak.
-
Penurunan daya konsentrasi dan prestasi belajar, akibat kurangnya waktu istirahat yang efektif.
-
Gangguan suasana hati (mood swings) dan mudah marah.
-
Penurunan daya tahan tubuh, karena sistem imun juga dipengaruhi oleh pola tidur.
Jika dibiarkan terlalu lama, anak bisa mengalami penurunan kualitas hidup secara keseluruhan.
Solusi Agar Anak dengan Skoliosis Dapat Tidur Lebih Nyenyak
Kabar baiknya, dengan penanganan yang tepat dan perubahan kebiasaan tidur yang sederhana, anak dengan skoliosis tetap bisa tidur nyenyak dan nyaman setiap malam. Berikut beberapa langkah yang direkomendasikan oleh para ahli tulang belakang:
1. Pilih Kasur yang Tepat
Kasur memegang peran penting dalam mendukung tulang belakang. Pilihlah kasur yang tidak terlalu empuk dan tidak terlalu keras. Kasur yang terlalu empuk membuat tubuh “tenggelam” dan memperburuk posisi tulang, sedangkan kasur yang terlalu keras menekan titik-titik tertentu pada punggung.
Idealnya, gunakan kasur dengan support ortopedi yang mampu menyesuaikan kontur tulang belakang secara alami.
2. Hindari Bantal yang Terlalu Tebal
Bantal yang terlalu tebal dapat menyebabkan posisi leher tidak sejajar dengan tulang belakang, sehingga menimbulkan nyeri dan ketegangan otot. Pilihlah bantal dengan ketebalan sedang yang mampu menopang kepala secara stabil tanpa membuatnya terlalu menunduk atau mendongak.
3. Lakukan Stretching Sebelum Tidur
Peregangan ringan atau stretching selama 5–10 menit sebelum tidur dapat membantu melemaskan otot punggung dan pinggang. Beberapa gerakan sederhana yang bisa dilakukan antara lain:
-
Child’s pose (gerakan yoga yang menenangkan punggung)
-
Pelvic tilt
-
Cat-cow stretch
Gerakan ini membantu melancarkan sirkulasi darah, mengurangi ketegangan otot, dan membuat tubuh lebih rileks.
4. Perhatikan Posisi Tidur
Posisi terbaik bagi anak dengan skoliosis tergantung pada arah lengkungan tulang belakangnya. Secara umum:
-
Untuk skoliosis berbentuk huruf “S”, posisi tidur miring dengan bantal di antara lutut bisa membantu.
-
Untuk skoliosis di bagian bawah punggung (lumbar), posisi telentang dengan bantal kecil di bawah lutut dapat mengurangi tekanan.
Hindari tidur tengkurap karena posisi ini bisa memperburuk tekanan pada tulang belakang dan leher.
5. Gunakan Alat Bantu Tidur (Sleep Aid) yang Sesuai
Beberapa anak dengan skoliosis sedang hingga berat mungkin membutuhkan brace (penyangga tubuh) atau alat bantu tidur khusus yang direkomendasikan dokter ortopedi. Penggunaan alat ini dapat membantu menjaga posisi tulang belakang tetap lurus selama tidur, serta mengurangi rasa sakit.
6. Konsultasi Rutin ke Klinik Spesialis Tulang Belakang
Langkah terpenting adalah memeriksakan kondisi anak secara berkala ke klinik spesialis tulang belakang seperti Prospine Clinic. Melalui pemeriksaan profesional dan pengukuran sudut skoliosis secara akurat, dokter dapat menentukan perawatan terbaik — apakah perlu fisioterapi, penggunaan brace, atau hanya pengawasan rutin.
Konsultasi di klinik juga membantu orang tua memahami kebiasaan tidur yang tepat serta rekomendasi gaya hidup yang menunjang kesehatan tulang anak dalam jangka panjang.
Pola Hidup yang Bisa Membantu Meringankan Gejala Skoliosis
Selain memperbaiki kebiasaan tidur, ada beberapa hal lain yang bisa dilakukan agar skoliosis tidak semakin parah:
-
Aktif Bergerak dan Berolahraga Teratur
Aktivitas fisik seperti berenang, yoga, atau pilates sangat baik untuk memperkuat otot punggung dan perut, yang berfungsi menopang tulang belakang. -
Menjaga Postur Tubuh Sehari-hari
Biasakan anak duduk dan berdiri dengan tegak. Hindari posisi duduk membungkuk terlalu lama, terutama saat belajar atau menggunakan gawai. -
Nutrisi Seimbang untuk Tulang dan Otot
Pastikan anak mendapat asupan kalsium, vitamin D, dan protein yang cukup dari makanan seperti susu, ikan, telur, dan sayuran hijau. -
Kendalikan Berat Badan
Berat badan berlebih dapat memberi tekanan tambahan pada tulang belakang, sehingga penting menjaga berat badan ideal sesuai usia anak.
Peran Orang Tua dalam Membantu Anak
Orang tua memiliki peran penting dalam mendeteksi, memantau, dan mendukung anak yang mengalami skoliosis. Berikut hal-hal yang bisa dilakukan:
-
Amati tanda-tanda awal skoliosis, seperti bahu tidak sejajar, satu sisi punggung tampak lebih tinggi, atau perbedaan tinggi pinggul.
-
Bantu anak menemukan posisi tidur yang nyaman, dan pastikan lingkungan tidur mendukung (kasur, bantal, suhu ruangan).
-
Dampingi saat latihan peregangan atau fisioterapi.
-
Berikan dukungan emosional. Banyak anak dengan skoliosis merasa minder, sehingga dukungan keluarga sangat berarti.
Kesimpulan
Skoliosis bukan hanya masalah bentuk tubuh, tetapi juga dapat memengaruhi kenyamanan dan kualitas tidur anak. Anak dengan kelengkungan tulang belakang lebih dari 25 derajat sering mengalami kesulitan tidur karena rasa tidak nyaman, nyeri, atau posisi tidur yang tidak ideal.
Dengan pemahaman yang tepat dan langkah-langkah sederhana seperti memilih kasur dan bantal yang sesuai, melakukan stretching sebelum tidur, serta rutin konsultasi ke klinik tulang belakang seperti Prospine Clinic, gangguan tidur pada anak skoliosis dapat diminimalkan.
Ingatlah bahwa tidur yang nyenyak bukan sekadar waktu istirahat — melainkan bagian penting dari proses tumbuh kembang yang sehat. Jaga tulang, jaga tidur, dan bantu anak menjalani hari-hari dengan postur yang kuat serta semangat yang tinggi.

